Selasa, 19 Januari 2010

ASKEP SISTEMIK LUPUS ERYTHEMATOSUS

KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Sistemik lupus erythematosus adalah suatu penyakit kulit menahun yang ditandai dengan peradangan dan pembetukan jaringan parut yang terjadi pada wajah, telinga, kulit kepala dan kandung pada bagian tubuh lainnya(WWW. Medicastrore. Com. 2004).

B. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi diduga merupakan suatu reaksi kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang kulit yang normal.
Penyakit ini cenderung diturunkan dan 3 kali lebih sering menyerang wanita pada beberapa penderita, timbulnya lesi kulit dipicu oleh sinar matahari dan merokok.
Lesi ( kelainan ) kulit ini tampak sebagai bercak kemerahan yang bersisik dan berkeropeng yang jika membaik akan meninggalkan jaringan perut berwarna putih. Bagian tengahnya berwarna lebih terang dan bagian pinggirnya berwarna lebih gelap dari kulit yang normal.
Jika lesi timbul didaerah yang berambut ( misalnya dagu atau kulit kepala ), maka bisa terjadi pembentukan jaringan parut yang berwarna permanen dan kerontokan( WWW. Medicastore.com. 2004 ).

C. PATOFISIOLOGI
Penyakit sistemik lupus eritematosus ( SLE ) tampaknya terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan auto anti bodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal ( sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif ) dan lingkungan ( cahaya matahari, luka bakar termal ). Obat-obat tertentu seperti hidralasin ( Apresoline , prokainamid ( Pronestyl ), isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping makanan kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi auto anti bodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-Supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya merangsang anti bodi tambahan, dan siklus tersebut berulang kembali( Smeltzer dan Suzane, 2001 )


D. PATHWAY

E. MANIFESTASI KLINIS
Bercak kemerahan yang khas bisa terus-menerus ada atau hilang timbul selama bertahun-tahun. Bercak-bercak ini berubah-ubah setiap saat, pada awalnya berbentuk bulat dan merah, dengan diameter 0,5 cm. biasanya muncul dipipi, hidung, kulit kepala dan telinga tetapi dapat juga ditemukan dibatang tubuh sebelah atas, lengan bagian belakang dan tulang kering jika kelainan ini tidak diobati, setiap bercak secara berlahan akan menyebar kedaerah disekelilingnya. Bagian tengah mengalami degenerasi dan membentuk jaringan parut pada daerah yang bersisik, folikel rambut melebar, meninggalkan lubang yang berbentuk seperti paku karpet. Jaringan parut dapat menyebabkan kerontokan rambut yang meluas. Bercak kemerahan bisa disertai dengan nyeri pada sendi dan penurunan jumlah darah sel putih. ( WWW. Medicastore. Com. 2004 )

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis SLE dibuat berdasarkan pada riwayat sakit yang lengkap dan hasil pemeriksaan darah. Gejala yang klasik mencakup demam, keletihan secara penurunan berat badan dan kemungkinan pula arthritis, pleuritis dan perikarditis. Tidak ada satu tes laboratorium tunggal yang dapat memastikan diagnostik SLE, sebaliknya pemeriksaan serum akan mengungkapkan anemia yang sedang hingga berat, trombositopenia, leukositosis atau leucopenia dan anti bodi antinukleus yang positif. Tes imunologi diagnostik lainnya mungkin tetapi tidak memastikan diagnostik( Smeltzer dan Suzanne, 2001)

G. PENATALAKSANAAN
Bercak kemerahan kecil biasanya berhasil diobati dengan krim kortikosteroid. Bercak lebih besar resisten, kadang memerlukan pengobatan selama beberapa bulan dengan kortikosteroid per-oral (ditelan) atau dengan obat imunosupresan seperti digunakan untuk mengobati lupus eritematosus sistemik. Krim steroid yang kuat sebaliknya dioleskan pada bercak kulit sebanyak 1-2 kali/hari. Sampai bercak menghilang jika bercak sudah mulai kurang bisa digunakan krim steroid yang lebih ringan.
Salep cortison yang dioleskan pada lesi sering kali dapat memperbaiki keadaan dan memperlambat perkembangan penyakit. Suntikan cortison yang dioleskan pada dalam lesi juga bisa mengobati keadaan ini dan bisanya lebih efektif dari pada salep.
Lupus discoid tidak disebabkan oleh malaria, tetapi obat anti malaria ( cloroquine, hydroxcloroquine ) memiliki daya anti peradangan yang ampuh bagi sebagian besar kasus lupus discoid.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan atau proses inflamasi destruksi sendi, kulit
1. Tujuan : Menunjukkan nyeri atau terkontrol.
Intervensi : - Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tnda rasa sakit non verbal.
- Berikan matras tinggikan laken tempat tidur sesuai kebutuhan.
- Tingkatkan istirahat ditempat tidur sesuai indikasi.
- Hindari gerakan yang menyentak.
- Beri obat sebelum aktivitas yang direncanakan sesuai petunjuk ( Doenges, 2000 )
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi pada kulit.
Intervensi : - Kaji warna dan kedalaman lesi perhatikan adanya nekrotik dan jaringan perut.
- Beri perawatan pada lesi.
- Pertahankan penutupan lesi.
- Hindari trauma.
- Intruksikan kepada pasien untuk tidak menggaruk lesi. ( Doenges, 2000 )
3. Mobilitas fisik kerusakan berhubungan dengan defometas skeletal
Tujuan : Mempertahankan fungsi dengan tidak hadirnya atau pembatasan kontraktor.
Intervensi : - Memantau tingkat inflamasi sakit pada sendi.
- Pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas.
- Gunakan bantal kecil atau tipis dibawah leher.
- Berikan matras busa atau pengubah tekanan.
- Berikan obat sesuai indikasi ( Doenges, 2000 )
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Tujuan : Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit.
Intervensi : - Dorong pengungkapan masalah tentang proses penyakit.
- Perhatikan perilaku menarik diri.
- Susun batasan pada perilaku maladaptif.
- Bantu dengan kebutuhan perawatan yang diperlukan.
- Berikan bantuan positif bila perlu.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskoluskeletal.
Tujuan : Melakukan aktifitas peraweatan dari pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual..
Intervensi : - Pertahankan mobilitas.
- Kontrol terhadap nyeri dan program latihan.
- Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri.
- Konsul dengan ahli terapi okupasi.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marlyne ( 2000 ) Rencana Asuhan Keperawatan EGC, Jakarta

Suzanne, Smeltzer ( 2001 ) Keperawatan Medikal Bedah edisi 2 Vol 8

WWW. Medicastore. Com. 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar